Tim 15 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin memperkenalkan alat pengering pala dengan sumber panas surya dan biomassa kepada petani di Fakfak, Papua Barat. Lokakarya di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey berlangsung pada Kamis, 17 September 2026.

Tim dari kampus di Makassar itu mengajarkan penggunaan Smart Solar Biomass Dryer. Ketua tim Sahriyanti Saad menjelaskan, sensor pada alat memungkinkan pengguna melihat suhu serta kelembapan ruang pengering melalui ponsel.

Pemantauan tersebut memakai teknologi Internet of Things atau IoT. Pengguna juga dapat mengatur laju kipas, sedangkan penambahan atau pengurangan bahan bakar biomassa tetap dilakukan sesuai kondisi suhu.

Petani meminta kapasitas lebih besar

Peserta mengikuti penjelasan penanganan hasil panen sebelum mencoba alat. Kelompok tani, pengelola badan usaha milik kampung, dan koperasi desa mengikuti kegiatan tersebut.

Prototipe yang diperkenalkan masih berskala rumah tangga, dengan kapasitas sekitar 1.000 biji pala dalam sekali pengeringan. Kapasitas itu merupakan keterangan tim, belum disertai hasil uji pembanding waktu pengeringan atau biaya produksi.

Ketua Kelompok Tani Pancoran, Dahlan, meminta tim menambah daya tampung alat. Ia berharap pengering dapat melayani hasil panen dalam jumlah lebih banyak.

Kami berharap kapasitasnya bisa diperbesar supaya bisa mengeringkan lebih banyak pala,” kata Dahlan, Ketua Kelompok Tani Pancoran, dalam keterangan yang dikutip ANTARA pada 20 September 2026.

Baca juga

Ikuti penjajakan riset energi Unhas dan ESDM serta kabar pertanian dalam rubrik Ekonomi.