Menurut laporan RRI, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Sulawesi Barat mengonfirmasi kasus ASF pada babi di Kabupaten Mamasa dan Polewali Mandar.

Konfirmasi itu merujuk hasil pemeriksaan Balai Besar Veteriner Maros. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DTPHP Sulbar Nur Kadar menyampaikannya pada 13 Juli 2026.

Di Polewali Mandar, 92 babi tercatat mati dan 83 lainnya masih dirawat hingga 30 Juni 2026. Angka itu tidak mencakup Mamasa.

…memang dari hasil laboratorium itu positif ASF,” ujar Nur Kadar, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DTPHP Sulbar, kepada RRI Mamuju pada 13 Juli 2026.

Dinas Menduga Virus Masuk dari Tana Toraja

Medik Veteriner Ahli Pertama DTPHP Sulbar Imron Taufiq mengatakan ASF dapat menyebar melalui babi sakit, cairan tubuh, orang dari kandang terinfeksi, dan pakan sisa tercemar.

Dinas menduga virus masuk ke Mamasa bersama ternak dari Tana Toraja. Penelusuran belum memastikan dugaan tersebut.

Kasus pertama di Sulawesi Barat baru terdeteksi pada tahun 2023,” kata Imron Taufiq, Medik Veteriner Ahli Pertama DTPHP Sulbar, dalam dialog RRI Mamuju pada 21 Juli 2026.

Peternak Diminta Batasi Akses Kandang

DTPHP Sulbar meminta peternak membersihkan kandang dan peralatan, membatasi orang yang masuk, serta menghentikan pemberian pakan sisa yang berisiko tercemar.

Menurut laporan RRI, peternakan di wilayah terjangkit telah diisolasi dan disemprot disinfektan. Peternak di wilayah yang belum terjangkit diminta segera melaporkan kematian babi.

Menurut Balai Veteriner Subang, ASF tidak menular kepada manusia, tetapi dapat mematikan ternak babi.

Penularan tidak langsung bisa terbawa oleh lalu lintas manusia atau peternak itu sendiri,” ujar Imron Taufiq, Medik Veteriner Ahli Pertama DTPHP Sulbar, dalam dialog RRI Mamuju pada 21 Juli 2026.