Mammiri, angin sepoi yang basah, lembut, dan menyampaikan. Dalam filosofi Makassar (dan lagu Anging Mammiri), angin bukan sekadar cuaca, ia adalah kurir jiwa yang aktif membawa rindu.
Angin dititipi pesan, bukan pasif, tapi aktif menyampaikan. Keyboard ini meneruskan laku itu ke bentuk digital: aksara yang dulu ditoreh di daun lontar, kini dikirim lewat layar.
Orang Bugis-Makassar dikenal ewako, berani, tegas. Tapi di balik itu, ada kehalusan yang puitis. Aksara Lontara ikut menyimpan dualitas itu: garis-garis bersudut tajam, tapi membawa bunyi syair yang lembut.
Orang Sulsel gemar merantau. Angin yang menyentuh kulit di tanah jauh, itu sapaan dari kampung. Keyboard ini dibuat untuk diaspora juga: agar aksara yang kadang hanya ada di ingatan, bisa terbawa pulang lewat pesan sehari-hari.
Yang lembut menembus lebih dalam daripada yang keras. Sebuah aksara warisan, dikembalikan dengan sentuhan selembut angin, bukan dipaksa, tapi diajak pulang ke layar ponsel.