Aksara asli orang Bugis dan Makassar, berusia ratusan tahun, masih dipakai dalam upacara, nama jalan, dan kini juga di layar ponsel.
Ada dua mode di keyboard, pilih yang paling nyaman. Pemula biasanya mulai dari Latin; pengguna yang sudah fasih lebih cepat dengan mode Lontara langsung.
Ketik huruf Latin seperti biasa. Suku kata otomatis diubah menjadi aksara Lontara.
Tap konsonan untuk vokal /a/ bawaan. Tahan dan geser untuk pilih vokal lain (i, u, é, o).
Urutan seperti "ngka" bisa berarti dua glif, keyboard menawarkan pilihan yang tepat.
Aksara Lontara adalah abugida, setiap konsonan membawa vokal /a/ bawaan. Untuk vokal lain, tambahkan tanda diakritik di atas, bawah, kiri, atau kanan.
Dasar ᨀ berbunyi ka. Setiap arah menambah vokal berbeda:
Ada juga ᨀᨛ (kə, schwa), hanya dipakai dalam beberapa dialek Bugis.
23 konsonan dasar + 4 konsonan pre-nasal + 5 diakritik vokal + tanda baca. Dikelompokkan berdasarkan tempat artikulasi.
Nama "Lontara" sendiri berasal dari lontar, daun palem yang dulu dipakai sebagai media tulis.
Aksara Lontara berkembang dari aksara Kawi (turunan Brahmi), yang sampai ke Sulawesi lewat jaringan perdagangan dan pengaruh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Bentuknya yang bersudut dan geometris disesuaikan untuk ditoreh pada daun lontar.
Daeng Pamatteq, Syahbandar (harbourmaster) dan Tumailalang (penasehat) Kerajaan Gowa di masa pemerintahan Raja Tumapa'risi' Kallonna (1512-1548), secara tradisi dipandang sebagai tokoh yang menyusun dan membakukan aksara Lontara dalam bentuk yang kita kenal sekarang. Catatan dari Lontaraq Patturioloang, kronik Kerajaan Gowa, mencatat kontribusinya mengatur 18 huruf dasar untuk keperluan administrasi pelabuhan dan pencatatan perjanjian dagang, menjadikannya tulisan fungsional sebuah negara maritim.
Kerajaan-kerajaan Bugis (Luwu, Bone, Wajo, Soppeng) dan Makassar (Gowa, Tallo) menggunakan Lontara untuk dokumen resmi, sastra, hukum adat, silsilah, dan epos Sureq Galigo, salah satu karya sastra terpanjang di dunia.
Di bawah pengaruh kolonial Belanda, aksara Latin menjadi standar administratif. Penggunaan Lontara menyempit ke konteks budaya, adat, dan keagamaan, tidak hilang, tetapi kehilangan ruang sehari-hari.
Lontara dimasukkan ke standar Unicode (blok U+1A00-U+1A1F) sebagai "Buginese". Ini membuka pintu untuk font, input keyboard, dan penggunaan di web dan aplikasi.
Aksara Lontara muncul kembali di papan nama jalan di Makassar, kurikulum muatan lokal di Sulawesi Selatan, dan komunitas digital yang mendorong pemakaian sehari-hari. Keyboard ini adalah bagian dari gerakan itu.
Syahbandar (harbourmaster) Kerajaan Gowa di masa Raja Tumapa'risi' Kallonna (1512-1548). Secara tradisi, Daeng Pamatteq lah yang menyusun dan membakukan aksara Lontara, menata huruf-huruf dasar ke dalam urutan yang masih diajarkan hingga sekarang. Kontribusinya dicatat dalam Lontaraq Patturioloang, kronik kerajaan Gowa. Tanpa beliau, Lontara mungkin tetap ada, tapi tidak akan punya bentuk standar yang kita pakai di keyboard ini.
~6 juta penutur, terutama di Sulawesi Selatan. Bahasa Bugis memakai Lontara untuk silsilah (lontaraq attoriolong), naskah sastra, dan mantra tradisional. Banyak keluarga masih menyimpan naskah lontar warisan leluhur.
~2 juta penutur di sekitar kota Makassar dan Gowa. Memakai Lontara dengan sedikit variasi ortografi. Bahasa Makassar menggunakan glotal stop (ditulis dengan ᨀ᨞) yang khas dalam kata-kata seperti tabeq (permisi).
~400 ribu penutur di Sulawesi Barat. Menggunakan varian Lontara yang mirip tapi dengan beberapa karakter tambahan. Saat ini revitalisasi aksara Mandar juga sedang berlangsung.
Papan nama jalan di Makassar dan Parepare, gerbang kantor pemerintah, logo event budaya, tato dan desain fashion lokal, kurikulum sekolah dasar di Sulsel, serta komunitas online yang aktif memperkenalkan Lontara ke generasi baru.
Buka keyboard, ketik romanisasi di kolom tengah, lihat hasilnya jadi aksara Lontara.