Aksara ᨒᨚᨈᨑ
Lontara

Aksara asli orang Bugis dan Makassar, berusia ratusan tahun, masih dipakai dalam upacara, nama jalan, dan kini juga di layar ponsel.

/ka/konsonan + vokal /a/
Satu glif, satu suku kata. Tanpa diakritik, selalu berbunyi /a/.
Petunjuk

Cara mengetik

Ada dua mode di keyboard, pilih yang paling nyaman. Pemula biasanya mulai dari Latin; pengguna yang sudah fasih lebih cepat dengan mode Lontara langsung.

1

Mode Latin (ABC)

Ketik huruf Latin seperti biasa. Suku kata otomatis diubah menjadi aksara Lontara.

kaone syllable · satu suku kata
coba di keyboard →
2

Mode Lontara langsung

Tap konsonan untuk vokal /a/ bawaan. Tahan dan geser untuk pilih vokal lain (i, u, é, o).

+ hold → ᨀᨗ ᨀᨘ ᨀᨙ ᨀᨚka · ki · ku · ké · ko
coba mode Lontara →
3

Ambiguitas

Urutan seperti "ngka" bisa berarti dua glif, keyboard menawarkan pilihan yang tepat.

ngka?or ᨂᨀprenasal vs ng + ka
lihat resolver →
Anatomi

Bagaimana satu suku kata terbentuk

Aksara Lontara adalah abugida, setiap konsonan membawa vokal /a/ bawaan. Untuk vokal lain, tambahkan tanda diakritik di atas, bawah, kiri, atau kanan.

/i/, atas · above/u/, bawah · below/é/, kiri · left/o/, kanan · right

Satu basis, lima arah

Dasar berbunyi ka. Setiap arah menambah vokal berbeda:

  • ᨀᨗ, ki (diakritik di atas · above)
  • ᨀᨘ, ku (di bawah · below)
  • ᨀᨙ, (di kiri · left)
  • ᨀᨚ, ko (di kanan · right)

Ada juga ᨀᨛ (, schwa), hanya dipakai dalam beberapa dialek Bugis.

Daftar lengkap

Semua karakter

23 konsonan dasar + 4 konsonan pre-nasal + 5 diakritik vokal + tanda baca. Dikelompokkan berdasarkan tempat artikulasi.

Velar · langit-langit belakang
ka
/ka/
ga
/ga/
nga
/ŋa/
ngka
/ŋka/
Labial · bibir
pa
/pa/
ba
/ba/
ma
/ma/
mpa
/mpa/
Dental · gigi
ta
/ta/
da
/da/
na
/na/
nra
/nra/
Palatal · langit-langit keras
ca
/tʃa/
ja
/dʒa/
nya
/ɲa/
nca
/ntʃa/
Lainnya · other
ya
/ja/
ra
/ra/
la
/la/
wa
/wa/
sa
/sa/
a
/a/ • carrier
ha
/ha/
Vokal · vowel diacritics
–a
inherent
ᨀᨗ
–i
above
ᨀᨘ
–u
below
ᨀᨙ
–é
left
ᨀᨚ
–o
right
ᨀᨛ
–ə
schwa
Tanda baca · punctuation
pallawa
pisah kata
end
akhir bagian
Sejarah

Dari daun lontar ke layar

Nama "Lontara" sendiri berasal dari lontar, daun palem yang dulu dipakai sebagai media tulis.

± abad 14

Asal usul

Aksara Lontara berkembang dari aksara Kawi (turunan Brahmi), yang sampai ke Sulawesi lewat jaringan perdagangan dan pengaruh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Bentuknya yang bersudut dan geometris disesuaikan untuk ditoreh pada daun lontar.

± 1538

Daeng Pamatteq, penata aksara

Daeng Pamatteq, Syahbandar (harbourmaster) dan Tumailalang (penasehat) Kerajaan Gowa di masa pemerintahan Raja Tumapa'risi' Kallonna (1512-1548), secara tradisi dipandang sebagai tokoh yang menyusun dan membakukan aksara Lontara dalam bentuk yang kita kenal sekarang. Catatan dari Lontaraq Patturioloang, kronik Kerajaan Gowa, mencatat kontribusinya mengatur 18 huruf dasar untuk keperluan administrasi pelabuhan dan pencatatan perjanjian dagang, menjadikannya tulisan fungsional sebuah negara maritim.

abad 15-17

Masa keemasan

Kerajaan-kerajaan Bugis (Luwu, Bone, Wajo, Soppeng) dan Makassar (Gowa, Tallo) menggunakan Lontara untuk dokumen resmi, sastra, hukum adat, silsilah, dan epos Sureq Galigo, salah satu karya sastra terpanjang di dunia.

abad 19-20

Kolonial & pergeseran

Di bawah pengaruh kolonial Belanda, aksara Latin menjadi standar administratif. Penggunaan Lontara menyempit ke konteks budaya, adat, dan keagamaan, tidak hilang, tetapi kehilangan ruang sehari-hari.

2005

Digital · Unicode

Lontara dimasukkan ke standar Unicode (blok U+1A00-U+1A1F) sebagai "Buginese". Ini membuka pintu untuk font, input keyboard, dan penggunaan di web dan aplikasi.

sekarang

Revitalisasi

Aksara Lontara muncul kembali di papan nama jalan di Makassar, kurikulum muatan lokal di Sulawesi Selatan, dan komunitas digital yang mendorong pemakaian sehari-hari. Keyboard ini adalah bagian dari gerakan itu.

Konteks budaya

Siapa yang memakai, di mana

ᨉᨕᨙ ᨄᨆᨈᨙ Daeng Pamatteq

Syahbandar (harbourmaster) Kerajaan Gowa di masa Raja Tumapa'risi' Kallonna (1512-1548). Secara tradisi, Daeng Pamatteq lah yang menyusun dan membakukan aksara Lontara, menata huruf-huruf dasar ke dalam urutan yang masih diajarkan hingga sekarang. Kontribusinya dicatat dalam Lontaraq Patturioloang, kronik kerajaan Gowa. Tanpa beliau, Lontara mungkin tetap ada, tapi tidak akan punya bentuk standar yang kita pakai di keyboard ini.

ᨅᨘᨁᨗ Orang Bugis

~6 juta penutur, terutama di Sulawesi Selatan. Bahasa Bugis memakai Lontara untuk silsilah (lontaraq attoriolong), naskah sastra, dan mantra tradisional. Banyak keluarga masih menyimpan naskah lontar warisan leluhur.

ᨆᨀᨔᨑ Orang Makassar

~2 juta penutur di sekitar kota Makassar dan Gowa. Memakai Lontara dengan sedikit variasi ortografi. Bahasa Makassar menggunakan glotal stop (ditulis dengan ᨀ᨞) yang khas dalam kata-kata seperti tabeq (permisi).

ᨆᨉᨘ Orang Mandar

~400 ribu penutur di Sulawesi Barat. Menggunakan varian Lontara yang mirip tapi dengan beberapa karakter tambahan. Saat ini revitalisasi aksara Mandar juga sedang berlangsung.

ᨈᨘᨑ Di mana terlihat hari ini

Papan nama jalan di Makassar dan Parepare, gerbang kantor pemerintah, logo event budaya, tato dan desain fashion lokal, kurikulum sekolah dasar di Sulsel, serta komunitas online yang aktif memperkenalkan Lontara ke generasi baru.

Coba sendiri

Frasa untuk mulai

Buka keyboard, ketik romanisasi di kolom tengah, lihat hasilnya jadi aksara Lontara.

Bacaan lanjut

  • Unicode Standard, Buginese block U+1A00-U+1A1F, standar karakter resmi
  • Omniglot, gambaran umum aksara Lontara dan variasinya
  • ScriptSource, database aksara dunia, profil Lontara/Bugis
  • Pelras, C. (1996), The Bugis. Blackwell. buku klasik tentang masyarakat Bugis, termasuk bab aksara.
  • Sureq Galigo, epos terpanjang di dunia, kaya dengan naskah Lontara asli
  • Lontaraq Patturioloang, kronik kerajaan Gowa, sumber utama tentang peran Daeng Pamatteq
  • Mattulada (1985), Latoa. kajian mendalam tentang adat & tulisan Bugis
  • Noto Sans Buginese, font open-source dari Google yang dipakai di keyboard ini
Created by MammiriWeb