Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin mencatat 2.830 kilogram sisa makanan kampus telah masuk pengolahan sampah organik hingga 18 September 2026. Bahan tersebut digunakan dalam budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) di Makassar.

Catatan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Unhas mencakup 18 kali pengangkutan sejak 24 Agustus 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi laporan pengelola, bukan volume sampah harian.

Keterangan Koordinator Safeguard program LCDI-ITF Unhas, Zulkarnaim, dimuat ANTARA pada Senin, 21 September 2026. Rilis kampus telah memuat data yang sama pada 19 September.

Sisa makanan berasal dari tiga pengelola

Unhas Hotel & Convention memasok 1.710 kilogram, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Unhas 693 kilogram, dan Hadin F&B 427 kilogram. Ketiganya menghasilkan sisa makanan dari kegiatan di lingkungan kampus.

PT Agro Farm Econesia atau CycleValue mengelola fasilitas pengolahan tersebut. Program Fakultas Peternakan mendapat dukungan LCDI-ITF.

Larva memanfaatkan bahan organik

Sisa makanan menjadi media pakan pada awal pertumbuhan larva. Larva kemudian dipindahkan ke biopond untuk pembesaran.

Zulkarnaim menjelaskan fungsi biologis larva dalam pengolahan sisa makanan. Biomassa yang dihasilkan berpotensi menjadi bahan pakan ternak dan unggas; potensi itu belum dinyatakan sebagai hasil uji pakan dalam dua laporan tersebut.

Pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot BSF memberikan pendekatan biologis dalam memanfaatkan sisa makanan,” kata Zulkarnaim, Koordinator Safeguard LCDI-ITF Unhas, dalam keterangan yang dimuat ANTARA pada 21 September 2026.

Baca juga

Baca hasil aksi bersih Panambungan dan kabar lingkungan dalam rubrik Gaya Hidup.