Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melaporkan progres rehabilitasi 39 daerah irigasi mencapai sekitar 17,8 persen per 13 September 2026. Pekerjaan dimulai pada April dan dirancang melayani 54.000 hektare sawah di 16 kabupaten.

Nilai program tahun jamak tersebut disebut Rp780 miliar dari APBD Sulsel 2025-2027. Angka progres berasal dari data pemerintah dan belum disertai hasil audit lapangan independen dalam dua sumber yang diperiksa.

Daerah layanan tersebar di Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

Pekerjaan menyasar jaringan yang menurun

Pemprov menyatakan rehabilitasi dilakukan karena fungsi sebagian jaringan lama telah menurun. Pekerjaan mencakup bendung dan saluran yang memengaruhi aliran air menuju sawah di bagian hilir maupun tersier.

Anggota Komisi V DPR RI Hamka B Kady mendorong perbaikan jaringan berjalan bersama modernisasi alat pertanian dan peningkatan kapasitas petani. Pernyataan itu merupakan penilaian kebijakan, bukan pengukuran hasil panen setelah proyek berjalan.

Irigasi yang baik membuat sawah petani teraliri air secara optimal,” mengatakan Hamka B Kady, Anggota Komisi V DPR RI, dalam keterangan yang dimuat Pemprov Sulsel pada 16 September 2026.

Target tanam belum menjadi hasil

Pemprov memproyeksikan pasokan air yang membaik dapat membantu petani menanam dua hingga tiga kali setahun. Proyeksi itu belum menunjukkan kenaikan indeks pertanaman atau produktivitas yang sudah terukur.

Laporan ini berfokus pada pembaruan progres lintas daerah per 13 September. Sudutnya berbeda dari rehabilitasi DI Balombong yang membahas satu lokasi di Toraja Utara.

Baca juga

Ikuti progres enam paket jalan Sulsel, perkembangan wilayah Sulawesi Selatan, dan rubrik Ekonomi.